Hujan Daun

Selasa, 27 Oktober 2015

Ketika Letih Tak Kenal Waktu





Hidup adalah pilihan. Begitu juga sama halnya dengan mimpi, semua orang bebas berkeinginan apapun, akan tetapi suatu mimpi akan terwujud dengan adanya usaha untuk menggapainya. Tak kenal lelah, putus asa, dan terus maju. Hidup tanpa mimpi bagaikan berjalan tanpa tujuan.




Mutarsinih, wanita berusia 80 tahun kelahiran Sukabumi ini memutuskan datang ke Depok untuk mencari pekerjaan yang lebih baik sejak 20 tahun lalu. Gubuk kecil ditengah keramaian Kota tanpa lampu baginya sudah cukup untuk berteduh. Ia hidup sendiri setelah suaminya meninggal dunia 8 bulan yang lalu. Tidak punya anak membuatnya kadang merasa sepi.

Pintu masuk rumah nek Mutarsinih

Tempat nek Mutarsinih melepaskan lelahnya

Kamar mandi nek Mutarsinih. Keadaan air sangat buruk

Dapur nek Mutarsinih

Tempat buang air besar yang berada diluar rumah dan diluar kamar mandi
Pukul 02.00 saat orang lain sedang tertidur lelap ia sudah bangun membuat nasi uduk dan gorengan yang akan dijual pagi nanti. Hingga matahari siang menyengat kulit, nek Mutarsinih masih berjalan keliling kampung. “Seberat apapun cobaan kalo dijalanin dengan ikhlas pasti akan terasa ringan.”ucapnya.

Begitulah pekerjaan yang nek Mutarsinih lakukan. Beliau hanya mendapatkan uang sebesar Rp. 20.000,- itupun kalau dagangannya habis, ketika tidak ada satupun pembeli maka tak ada sepeserpun uang yang diterima olehnya. Jika tidak habis, sisa makanannya dibuang karena basi. Beruntung ada pohon petai dan singkong milik orang cina disebelah rumahnya yang dapat dijual untuk menambah biaya hidunya. Petai hanya dihargai Rp. 10.000,- perkg. 

Pekerjaan sampingan nek Mutarsinih

Kebun milik orang lain yang berada di samping rumah nek Mutarsinih


“Semangat dan kegigihan harus di landasi dengan tujuan dan kemauan yang kuat.” Itulah pesan nek Mutarsinih. Sabtu(24/10/2015)